Temu Lapang dan Panen Perdana PM AAS di Pangkep, Dorong Peningkatan Produksi dan Efisiensi Air
Maros, 22/10 – Sistem tanam Pertanian Modern – Advanced Agriculture System (PM-AAS) terus dikembangkan sebagai salah satu upaya mendorong modernisasi budi daya padi dan meningkatkan produktivitas pertanian. Penerapan program ini menjadi perhatian dalam kegiatan Temu Lapang dan Panen Perdana PM-AAS di Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, yang merupakan bagian dari fasilitasi Koordinasi Program Strategis Kementerian Pertanian. Kegiatan tersebut menjadi wadah untuk mengevaluasi hasil penerapan teknologi budi daya, mengidentifikasi kendala yang dihadapi petani, serta memperkuat koordinasi antara penyuluh pertanian, pemerintah, dan berbagai pihak terkait dalam mendukung peningkatan hasil produksi padi.
PM-AAS merupakan pendekatan budidaya padi yang menitikberatkan pada pengaturan sistem tanam, peningkatan populasi tanaman, serta pengelolaan air secara efisien. Salah satu metode yang diterapkan adalah Tanam Benih Langsung (Tabela) dengan pengaturan pola tanam yang lebih terukur dan populasi tanaman yang lebih rapat. Meskipun metode Tabela telah dikenal sebelumnya, penerapannya dalam PM-AAS diarahkan agar sistem budidaya dilakukan secara lebih terencana. Selain itu, pengelolaan air menjadi komponen penting karena ketersediaannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dan kondisi lahan. Melalui penerapan sistem tersebut, PM-AAS diharapkan dapat meningkatkan efektivitas budidaya, menekan biaya produksi, dan memberikan hasil panen yang lebih optimal.
Hasil penerapan PM-AAS di Desa Panaikang menunjukkan capaian yang menjanjikan. Berdasarkan keterangan Pak Yusuf selaku penyuluh pertanian lapangan Desa Panaikang, panen pada lahan seluas 30 are menghasilkan 47 karung gabah dengan berat 60 kilogram per karung. Total hasil panen tersebut mencapai 2.820 kilogram atau setara dengan produktivitas 9,4 ton per hektare. Hasil ini lebih tinggi dibandingkan hasil sebelumnya yang tercatat sekitar 30 karung pada lahan yang sama. Capaian tersebut menjadi bahan evaluasi terhadap penerapan PM-AAS sekaligus menunjukkan pentingnya pendampingan teknis dan pencatatan hasil panen secara akurat.
Keberhasilan pelaksanaan PM-AAS juga berkaitan erat dengan ketersediaan air irigasi, terutama dalam menghadapi kondisi cuaca ekstrem. Jaringan irigasi Tabo-Tabo berperan dalam mendukung kebutuhan pengairan pertanian di wilayah Ma’rang, Labakkang, Bungoro, Minasatene, dan Pangkajene. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah menyalurkan air hingga ke lahan pertanian yang berada jauh dari sumber pengairan. Oleh karena itu, pengelolaan air perlu dilakukan secara terencana agar air tersedia ketika tanaman membutuhkannya, tanpa penggunaan yang berlebihan. Koordinasi Komisi Irigasi dalam menentukan jadwal tanam dan percepatan pertanaman, serta sinergi antara Kementerian Pertanian dan Kementerian Pekerjaan Umum, menjadi bagian penting dalam mendukung keberlanjutan program.
Selain persoalan pengairan, kondisi tanah dan pengendalian organisme pengganggu tanaman juga menjadi perhatian dalam penerapan PM-AAS. Pada sesi diskusi, peserta menyoroti perlunya memperhatikan tingkat keasaman tanah sebelum melakukan percepatan tanam, mengingat kondisi lahan yang kurang sesuai dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Sebagai langkah tindak lanjut, dibahas rencana Pengambilan sampel tanah bersama BRMP Sulawesi Selatan untuk mengetahui tingkat keasamannya. Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan kebutuhan perbaikan pH tanah, pengapuran menggunakan kapur dolomit dapat dipertimbangkan sesuai rekomendasi teknis. Selain itu, penggunaan sarana pengendalian hama dan gulma perlu disesuaikan dengan kondisi pertanaman agar pelaksanaannya tepat sasaran.
Melalui kegiatan Temu Lapang Panen Perdana ini, pelaksanaan PM-AAS diharapkan tidak hanya berorientasi pada peningkatan hasil panen, tetapi juga pada efisiensi penggunaan air, pengurangan biaya produksi, dan peningkatan kesejahteraan petani. Penerima bantuan diharapkan dapat menunjukkan peningkatan Indeks Pertanaman (IP) serta produktivitas sebagai indikator keberhasilan program.
Keberhasilan program tersebut merupakan hasil dari pengawalan dan pendampingan Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Serealia (BRMP Serealia), Dinas Pertanian Kab. Pangkep, Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kab. Pangkep, Dinas Ketahanan Pangan Kab. Pangkep, Badan Pusat Statistik (BPS) Kab. Pangkep serta Penyuluh Pertanian Lapangan Kab. Pangkep.
Terima kasih telah membaca artikel kami. Kami ingin mengajak Anda untuk terus menjelajahi dan memperdalam pengetahuan Anda. Temukan berita terbaru dan artikel bermanfaat dengan mengklik tautan berikut "Klik di sini".
Jurnalis: Muhammad Qitfirul Azizul